Jumat, 02 Maret 2012

KISS **kisah indah seputar santri**

KISS **kisah indah seputar santri**



                                                KISS
                            Kisah Indah Seputar Santri


Banyak yang bilang masa SMA adalah masa yang paling manis, kisah-kisah paling indah, hiasan masa remaja yang paling berkesan dan sejarah yang akan di bingkai dalam kenangan.
Namun jauh disini, disalah sudut bumi yang juga merasakan pembagian adil sorot hangat mentari pagi. Sudut yang jarang dilihat orang. Di dalam gerbang yang laksana benteng kokoh, dimana gembok besinya terlihat seperti belenggu kebebasan, dimana banyak orang menganggapnya penjara suci.
‘PESANTREN’.....pun disana menyimpan berjuta kisah yang indah, pun disana juga ada ukiran kenangan manis, unik dan tak terlalu picisan untuk digubah dalam karya pena.
Aku hanya ingin bercerita tentang apa yang pernah kurasa, betapa pernak-pernik perjalanan di arena pesantren terlalu sayang untuk hanya dikenang.
Aku ingin mendokumentasikan, gambaran irama pesantren tak seperti asumsi sebagian besar masyarakat luar. Banyak petikan hikmah dan pelajaran kehidupan yang dapat diambil. Ada banyak sekali. 
Akhirnya, ada baiknya kukatakan sebagai awal tutur cerita. Bahwa  “menjadi santri itu bukanlah pilihan yang mendatangkan penyesalan .................”. Barokah, tak pernah dapat dihitung dengan teori dan kalkulasi, yang dapat merasakan adalah hati.
                                            
                                                                                 Bint@ el-MamBa
                                                                                  LANGITAN

                       KISS 1 : UNTAIAN NADHOM PUJANGGA SHILIHIN


Dulu.........pernah terbesit rasa ngeri ketakutan yang dirasakan hampir semua anak yang ditawari pilihan untuk menempuh pendidikan salaf.
“Takut mbak, hafalannya itu lho iiihhh syeremm..... “
“Mana setiap hari disuruh menghafal terus.......trussssss. boleh nonton TV duuh ngebayangin aja aku sudah pusing........” beberapa asumsi senada banyak yang terdengar nyaring apa iyaaa......... ?
Awalnya aku juga merasakan ketakutan itu sekarang setelah aku menyelam sendiri, berat hanya dipermulaan, Semua kalah oleh niat, saat keraguan berbaur dengan tekat. Bayangkan saja menapaki anak tangga satu demi satu. Bayangkan saja seperti mengupas kelapa menyobek serat demi serat.
Apabila niat sudah terpatri seluruh anggota fisik tinggal mematuhi apa kata hati, Seiring berjalannya asa dengan istiqomah dan tawakkal sebutir pun akan jadi segenggam.
Mayoritas pesantren yang menerapkan konsep salafy biasanya menggunakan sistim hafalan nadhom. Kalam-kalam ilmu yang dirangkai dalam bentuk syair. Agar supaya mudah mendendangkan dalam alunan berirama. Dan menyenangkan menghafalkannya.
Ada nadhom tentang Fiqih, Tajwid,Tauhid, Gramatika arab yang terdiri dari Nahwu, Shorof, Balaghoh, I’lal dan lain sebagainya. Adapun pengarangnya adalah pujangga-pujangga hebat yang sulit dicari bandingannya di zaman sekarang. Mereka adalah alim ulama ’yang mencurahkan segenap pikirannya untuk kemaslahatan islam. Untuk menyebarkan ilmu syari’at tanpa memetik keuntungan sepeserpun dari hasil penjualan penggandaan karyanya. Yang mungkin jika diterapkan sistim royalty niscaya anak cucu mereka akan selalu dibanjiri keuntungan. Namun dapt kita saksikan, kitab-kitab karya mereka terus diterbitkan dari zaman ke zaman. Dipelajari, dikaji tak ubahnya lampu yang tak pernah padam.
Semua yang tersebut di atas adalah cerita dari guruku Syaikhina Abdullah Faqih Al-hajj. Cerita yang tidak hanya cerita. Syeh alim ‘allamah yang karya kitab-kitabnya kami kaji setiap hari bukanlah kaya sembarang orang. Tapi karya orang-orang pilihan dengan IQ yang pasti lebih superior dibandingkan enstein sekalipun. Orang-orang pilihan yang tidak mengharap apapun atas jerih payahnya kecuali mengharap ridho Allah SWT.
Kebiasaan di pondok kami adalah mengadakan ‘lalaran nadhoman’ setiap malam selasa ba’da maghrib. Semua santri berkumpul menurut kelasnya masing-masing. Bermacam irama kami coba dengan alat musik seadanya. Dentingan dari sendok, drum dari wadah galon kosong sampai menggebuk bangku pun jadi.
Hmmm.. kalau dibayangkan sih sepertinya norak. Tapi yang kurasakan... apa mungkin dapat kutemukan band seperti ini di tempat lain...? (hehehe...)
Ada rasa bangga, ada rasa puas. Saat seratus nadhom tadi kudendangkan tanpa membuka catatan sedikitpun. Begitu juga pasti yang dirasa semua teman-temanku. Mengingat bagaimana kemarin kami menghafal satu bait demi satu bait.
Aku semakin kagum memandang mereka senior-seniorku, para Ustadz, dan tentu saja Syaikhina pengasuh pondokku. Di dalam kepala mereka pasti sudah tersimpan berjuta beribu-ribu bait lengkap dengan makna dan keterangannya. Mereka sudah menapaki istiqomah muthola’ah dan ikhlas membagi ilmu dalam bilangan tahun yang tidak sedikit.
Dan perlu kukatakan pada semuanya. Manusia-manusia sekaliber mereka hanya dapat ditemui di sini... di penjara suci.

                                                               Langitan
                                                Catatan kecil di pagi hari

cerita kena tampar

Category:Books
Genre: History
Author:selalu salahnya manusia
ASSALAMUALAIKUM....WR....WB

Teringat beberapa dialog menarik tentang selalu salahnya manusia pada waktu mereka berani menghujat Tuhan Allah SWT. Dimana seorang santri pesantren berdialog dengan kiai nya sbb:

"Kiai ! Setan itu kan terbuat dari api kan ? " tanya si santri kepada gurunya.

" Betul sekali gus !" jawab si Kiai dgn mantap.

" Kan setan itu sudah di laknat dan nantinya pasti masuk nerakan kan ?" tanya si santri.

" Betul sekali nak!" jawab si Kiai.

" Wah, kalau gitu enak dong setan itu, semua manusia yang dosa dan kaafir akan masuk neraka dan merasakan panasnya api neraka, cuma setan yang tidak akan merasa panasnya api neraka !!" , kata santri dgn gayanya yg sok yakin.

" Kenapa kamu bilang begitu !!" Jawab si Kiai dengan geram.

" Lho, kan tadi Kiai bilang bhw setan itu di buat Tuhan dari api dan dia pasti masuk neraka, karena bahan baku setan itu sama dengan api neraka dari api, yah logikanya, secara kimiawi kan setan itu tidak akan merasakan panasnya api neraka kan ??"

Dengan geram si Kiai itu tiba-tiba menampar / menabok muka muridnya sambil berkata kepada si santri: " Gimana tamparan saya itu, sakit nggak rasanya di muka kamu ??"

"Sakit banget Kiai !!" kata si santri.

"Kenapa rasanya sakit ??, kan tangan saya bahan bakunya "sama" dari kulit seperti kulit di muka kamu?? "

Si santri bengong dan menyadari jawaban gurunya itu benar sekali !!!

ALLAHU AKBAR !!!!

Rabu, 29 Februari 2012

Kata-kata dan Irama: Surat Sastra buat Para Santri


files/user/193/43Santri-Lirboyo.jpg
43Santri-Lirboyo.jpg
Kata-kata dan Irama: Surat Sastra buat Para Santri
Oleh Faisal Kamandobat
I
Tentu saja, sastra bukan hal baru bagi kalangan santri. Hampir semua materi pelajaran, mulai aqidah, fiqh hingga tata bahasa, disampaikan dalam bentuk sastra berupa nadzaman. Lebih lanjut dapat dikatakan, seorang santri dapat menaiki jenjang pengajian dari satu kitab ke kitab berikutnya, dari sebuah tingkat ke tingkat berikutnya, dengan melihat kemampuannya dalam menghafalkan nazdaman. Di kamar-kamar santri yang sederhana, atau di lorong-lorong pesantren yang khidmat pada tengah malam, atau di makam sang kiai yang keramat dan hening, para santri terangguk-angguk melantunkan nadzaman, antara tuntutan sikap khusyuk dan teror rasa kantuk, demi memenuhi standar kualifikasi dalam bidang pelajaran yang sedang dikajinya. Kenyataan tersebut menunjukkan di pesantren sastra telah menjadi ukuran penting yang menentukan sukses tidaknya seorang santri dalam studinya. Jadi, jika untuk menjadi seorang politisi seseorang disyaratkan memiliki cukup uang, pakaian bagus, kendaraan mewah dan kepandaian berbicara, untuk menjadi santri yang berhasil disyaratkan kecakapan dalam bidang sastra, yang di dalamnya terkandung etika, moralitas, teologi, hukum, filsafat, astronomi, dan bahasa. Sastra telah menjadi salah satu pilar penting yang membentuk dunia pesantren ke dalam tatanan yang koheren dan khas, yang oleh orang Yunani Kuno disebut sebagai kosmos.
Di samping nadzaman, yang lebih diperuntukkan untuk fungsi pengajaran dan melaluinya dunia pesantren diikat ke dalam tatanan yang koheren dan khas, kaum santri juga memiliki tradisi sastra dalam bentuk suluk. Bentuk suluk ini, sebagaimana dikatakan Nancy K. Florida, telah memberi sumbangan penting terhadap sastra Jawa, baik dalam jumlah naskah, bentuk estetik, serta kemampuannya dalam memberi orientasi terhadap kebudayaan Jawa. Pada tengah malam, ketika para petani sedang beristirahat setelah bekerja pada siang harinya, mereka menikmati suluk yang dilantunkan dengan berbagai metrumnya. Pada saat itulah orang Jawa, dengan cara yang halus dan indah, sedang digubah dan diisi ulang kandungan jiwanya, sehingga arah hidupnya perlahan mengikuti kandungan dalam suluk tersebut. Nadanya yang berputar berulang bergerak menuju titik pusat yang di ketinggian, di mana Tuhan secara simbolik berada. Bagi orang Jawa, mendengarkan suluk telah menjadi semacam mekanisme siklikal untuk menetralisir jagat rayanya: segala pedih-perih di bumi diobati di langit, paradoks dan kotradiksi di dunia didamaikan di angkasa; sebaliknya, segala yang ideal, agung, dan suci di langit diturunkan ke bumi, dengan mengikuti nada suluk yang perlahan merendah, sehingga dunia yang profan, terbatas, dan sementara, menemukan cermin sempurna untuk berbenah, hingga ke wujud penghayatan yang paling hakiki: maka material ekonomi yang diraih pada kerja di siang hari mendapatkan status ruhaninya di malam hari, pengalaman hidup yang sementara di saat bekerja memiliki harapan abadinya di puncak malam, dan segala yang terbatas dari apa yang mereka dapatkan saat bekerja menemukan gambaran tak terhingga yang dimanifestaskan dalam praktik syukur. Jadi, jika nadzaman berfungsi mengikat dunia pesantren ke dalam koherensi sosial dan kulturalnya secara internal, maka suluk memiliki fungsi eksternal dan sosial, dimana melaluinya api yang menyala di pesantren ikut memancar ke masyarakat di sekelilingnya.
Di luar suluk dan nadzaman, kita masih dapat mengingat, kendati dengan potret yang kurang jelas, tentang kuatnya tradisi dongeng yang adalah bentuk sastra paling imajinatif dan performatif. Pada masa kanak-kanak, di tengah malam yang senyap dan menakutkan, para ibu menentramkan jiwa anaknya yang gelisah dengan memberinya bermacam dongeng dan tembang. Mulai kisah pewayangan, sejarah Jawa, hingga kisah 1001 Malam. Dengan mendengarkan dongeng, rasa takut si anak terhadap hantu-hantu pun mereda, dahaga imajinasinya yang kering terpenuhi, dan sang ibu pun terpuaskan karena telah menyalurkan gagasannya untuk membentuk visi dan karakter anaknya, dengan sejenak bersikap sebagai seorang aktris sastra yang bersahaja. Peristiwa tersebut menunjukkan, betapa sastra telah (1) ikut membentuk perkembangan kesadaran seorang anak, (2) mengikat sebuah keluarga ke dalam identitas kultural tertentu, (3) memberi sentuhan imajinatif terhadap sejarah hidup sehari-hari yang kering dan mapan, (4) menghubungkan peristiwa masa kini dengan sejarah masa lalu, dan (5) membuat relasi historis antara sebuah kawasan dengan kawasan lain. Pada keluarga-keluarga tertentu, dimana akses buku lebih mudah didapatkan dan kesadaran membaca telah tumbuh, para ibu membacakan kisah-kisah dari berbagai negeri untuk putra-putrinya, sehingga tanpa sadar anaknya telah memiliki wawasan yang lebih luas daripada pergaulan lokal dengan teman-teman sebayanya, dan ketika anak itu tumbuh besar, ia tidak begitu kaget ketika seorang guru bercerita tentang globalisasi, modernisasi, dan keberadaan bangsa-bangsa lain. Itu terjadi karena sastra bukan imajinasi yang tak berpijak pada realitas, melainkan sebuah potret halus, imajinatif, dan kreatif atasnya.
Maka dapatlah dibayangkan, sekedar gambaran kasar: seorang anak yang dididik dengan sastra di keluarganya, ketika usianya menginjak remaja ia dikirimkan ke pesantren, dan di pesantren ia mendapatkan tradisi sastra dalam bentuk yang lebih canggih, dengan fungsinya yang penting, baik untuk pesantren sebagai sebuah institusi, maupun untuk menghubungkan institusi tersebut dengan masyarakatnya. Jika setiap pesantren terdiri dari santri dari berbagai daerah yang berbeda-beda, maka di pesantren terjadi transmisi budaya antar wilayah, yang kemudian menyebar ke berbagai daerah manakala para santri itu telah lulus, dan menjadi seorang kiai yang cakap membuat nadzaman dan suluk, di samping mumpuni dalam berbagai furu’ ilmu agama. Maka jaringan antar pesantren, karenanya, pada dasarnya adalah jaringan sastra, yang dimanifestasikan dalam bentuk institusi pendidikan, perkawinan antar santri dan putra-putri kiai, ritual ziarah ke makam-makam kramat, dan kitab-kitab yang ditukar silang hingga isinya dibagikan secara adil dan merata ke semua santri, tergantung kesungguhan dan tirakatnya masing-masing; lalu akhirnya, semua itu (kitab, perkawinan, ziarah, institusi pesantren, geografi), ditulis kembali oleh seorang santri yang berbakat ke dalam bentuk sastra, sehingga terjadi produksi literer dan budaya terus menerus seperti yang kita kenal sekarang ini. Dengan cara itulah pesantren menemukan identitasnya, jati dirinya, betapa pun bermacam konflik terjadi di antara mereka sebagai dampak kompetisi, mulai jumlah santri, pengaruh sosial dan politik para kiai, perebutan sumberdaya ekonomi pesantren di antara para kiainya, hingga sikap pengelakan atau penolakan dalam proses perjodohan di antara putra-putri para kiai…
II
Sekarang, tradisi menulis nadzaman, suluk dan dongeng mungkin masih ada, namun pengaruhnya perlahan telah dikikis oleh budaya industri. Di ruang keluarga, para ibu lebih suka menyerahkan anaknya yang rewel kepada film kartun atau Play Station daripada memberinya sebuah dongeng yang ia warisi dari leluhurnya, para suami menikmati film drama atau action dengan berebut channel televisi dengan istrinya yang memilih sinetron dan telenovela daripada menikmati suluk dan macapat; di pesantren, para santri yang masih remaja lebih hafal lirik lagu-lagu pop daripada nadzaman, para kiai tidak sekedar mengurus santri, namun juga ikut mengurus partai politik dan menjadi penasehat pemerintah, tidak lagi menulis nadzaman dan suluk; di masyarakat, para petani yang dulu menikmati suluk tak lagi menemukan mekanisme untuk memberi muatan ruhani bagi rizki yang diperolehnya di siang hari, dan berbagai kontradiksi dalam hidup sehari-hari tak lagi memiliki media budaya yang mampu mandamaikannya di langit; sedang secara ekonomi, masyarakat pun lebih memilih kerja yang penuh persaingan daripada bagi hasil panen yang tak seberapa. Dunia bergerak cepat seiring derasnya arus individulisme sebagai dampak kepemilikan individu dalam kapitalisme, yang menenggelamkan jagat raya kita melalui migrasi modal dan barang, media informasi, arus migran para buruh, dan jeratan hutang.
Memang, semua itu (film, musik pop, game) pada dasarnya hanyalah sebuah media, yang fungsinya untuk mentransmisikan sebuah pesan. Namun semua itu mampu mengubah pesantren karena muatan-muatannya datang dari dunia eksternal yang menembus dinding pesantren secara perlahan-lahan, namun dengan tekanan yang kuat. Tanpa sadar, para ayah menyaksikan putra-putrinya telah memiliki pandangan hidup serta sikap yang berbeda dari mereka dimana agama hanya berlaku di ruang privat saat berhubungan dengan Tuhan, ikatan santri dengan kiainya perlahan mengendur, pengaruh kiai di masyarakat pun terus menyusut, dan kandungan dalam suluk dianggap ketinggalan zaman dan membosankan. Kosmos pesantren yang koheren, bersahaja, dan indah itu sedang ditantang oleh perubahan zaman; sebagian retak, sebagian lagi tercabik-cabik, dan sebagian yang lain lagi bahkan patah, seperti digambarkan dengan baik oleh Ahmad Tohari dalam Bekisar Merah, dan oleh AA Navis dalam Robohnya Surau Kami.
Di tengah situasi tersebut, sebaiknya kita tidak usah panik. Sebagai sebuah media, produk budaya industri seperti musik, film, game, novel, puisi, esei, dibuat untuk menyampaikan sebuah pesan, dan karena itu juga dapat digunakan oleh para santri untuk menyampaikan pesan-pesan budayanya, sama seperti para leluhurnya dulu menggunakan suluk, wayang, macapat, atau kethoprak. Itulah kenapa menjadi penting kehadiran para santri di dunia seni modern, baik sastra, film, atau industri multimedia. Namun pesan tersebut harus diolah sedemikian rupa agar dapat diterima, baik oleh kalangan pesantren maupun masyarakat secara umum, yang telah berubah sedemikian rupa: secara ekonomi telah terjadi pembagian kerja yang semakin kompleks, yang berakibat pada berubahan struktur sosial masyarakat, dan akhirnya secara kultural nilai-nilainya pun ikut berubah. Kita pun melihat kemiskinan tak ubahnya lautan yang mengepung pulau-pulau, para remajanya tidak lagi memiliki pertautan historis dengan generasi sebelumnya, ajaran agama kehilangan elan vitalnya di tengah situasi yang remuk redam, dan negara telah menjelma pabrik yang memproduksi harapan dan ketakutan dan kurang berhubungan dengan kenyataan.
Sastra yang baik adalah sastra yang mampu menggambarkan berbagai pergulatan manusia di tengah perubahan itu; dari kemampuan sastrawannya dalam memahami situasi masyarakat yang digambarkannya, serta menghayati tema yang dilukiskannya sedemikian rupa sehingga ia tidak hanya menulis dengan otak dan pena, namun dengan seluruh metabolisme kesadarannya, sehingga tidak hanya menghasilkan tulisan-tulisan yang klise, namun menghasilkan ide-ide yang mampu mengurai dan menggugah kesadaran masyarakat tentang siapa dirinya: sejarahnya, budayanya, ekonominya, dan akhirnya bagaimana mereka mendefinisikan dirinya di tengah berbagai situasi yang mereka hadapi, sama seperti para mushannif kitab dahulu menjawab tantangan bagi zaman mereka. Pun demikian halnya dengan para santri yang menggeluti film dan multimedia.
Minimal dengan cara itu akan lahir karya sastra dari pesantren yang mampu menjadi sumber inspirasi bagi para santri untuk mengatasi badai perubahan yang menghantam pilar-pilar sosial dan budaya pesantren. Mungkin menarik menggambarkan kembali jaringan perdagangan kaum santri agar kelak lahir para ekonom dan pengusaha dari kalangan pesantren sehingga dapat mengentaskan kemiskinan kaum santri yang telah dikenakan sebagai semacam kebanggaan, atau menggambarkan tradisi astronomi untuk menanamkan kesadaran saintifik bagi santri agar di kemudian hari lahir fisikawan, biolog, ahli kimia dari pesantren, atau menggambarkan seorang santri kelana yang gelisah mencari jati diri hingga ia pulang kembali ke rumahnya, mengerjakan ladang warisan orang tuanya, dan menulis biografinya sendiri dengan cara yang sama indahnya dengan Fariduddin Attar menulis Musyawarah Burung atau Paulo Cuelho menulis Sang Alkhemist. Dan bagi yang menggemari tema-tema sufi, mereka ditantang untuk membuat ajaran mistik turun ke bumi dan menjalar di lingkungan kerja, politik, akademi, di jalanan di mana para gelandangan menidurkan wajah mereka di udara dingin, agar Tuhan tidak kesunyian di langit namun semakin aktual dalam sejarah dan, lebih dari itu, menjadi Kekuatan yang membangkitkan sejarah itu, dalam kesadaran manusia. Dan agar semua tema itu menarik buat para pembaca, bolehlah diselipkan kisah cinta, bukan cinta yang klise namun cinta yang telah diubah menjadi metafor sehingga melaluinya denyut zaman ini dapat berbicara: kemiskinan dan kemewahannya, keangkuhan dan kesia-siaannya, sisi gelap dan sisi terangnya, dan akhirnya cinta itu dapat menjadi orientasi dari gerak sejarah yang tak menentu ini.
Maka sastrawan dituntut memiliki wawasan yang luas di luar bidangnya, dan mengalami pergulatan batin yang panjang dan sabar. Tanpa itu, sastra hanya akan dihasilkan dan dinikmati oleh kalangan sendiri; karena tidak mampu menggambarkan persoalan masyarakat maka ia pun akan kurang diterima oleh masyarakat, dan apalagi memberi arah perubahan sosial bagi mereka. Sastra menjadi makhluk pengasingan yang cantik, seperti Alquran yang ditulis dengan kaligrafi yang indah namun fungsinya lebih sebagai hiasan daripada bacaan. Tugas sastra pesantren adalah merebut Alquran yang indah itu dari sangkar dekorasinya, membuatnya hidup dan berkeliaran dengan bebas sehingga dapat menyentuh sisi gelap sejarah, dan menjadi tenaga hidup yang segar bagi manusia. Dengan cara itu, sastra dapat mengembalikan situasi sosial dan kultural yang chaos, kacau, tak menentu, untuk kembali menjadi cosmos yang koheren, tertib, dan tentram; sama seperti nadzaman dan suluk di zaman para leluhur dulu, yang diwarisi dengan penuh kecakapan dari nubuwat artistik Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Namun, manakala tatanan kosmos yang tertib dan tentram itu ternyata menyimpan penindasan diam-diam, maka tugas karya sastra juga untuk mengganggunya...
III
Namun dalam seni modern, kecakapan seorang seniman dalam menggambarkan persoalan sosial dan kultural saja seperti dalam cerita-cerita Jamil Suherman belum cukup. Sastra modern menuntut seorang sastrawan melakukan eksperimen yang menantang seluruh potensi kreatifnya hingga batas kemampuan terjauh. Tanpa menghadirkan temuan literer yang signifikan dalam estetika, sastra pesantren akan ditempatkan sebagai penggembira yang bermartabat dalam sejarah sastra modern kita, namun belum cukup untuk menjadi tonggak yang menentukan orientasi, bukan hanya bagi masyarakat santri, namun juga bagi kalangan sastra modern sendiri. Untuk itu, sastra pesantren harus menantang, dengan rendah hati namun penuh imajinasi dan daya hidup, bukan hanya tradisinya sendiri, namun juga modernitas sastra yang digunakannya. Dari kerja menantang baik tradisi maupun modernitasnya itulah kelak diharapkan akan lahir sistesa estetik yang diperhitungkan oleh kedua belah pihak, dan akhirnya dapat dibanggakan sebagai sumbangan gagasan dalam bidang humaniora, yang merefleksikan perjalanan sebuah masyarakat dalam usahanya mencapai puncak tertinggi serta jantung terdalam dalam filsafat estetika.
Usaha semacam itu bukan sesuatu yang mustahil untuk dicapai. Beberapa sastrawan dari pesantren telah berhasil melakukannya, seperti A. Mustofa Bisrie, Ahmad Tohari, D. Zawawi Imron dan Acep Zamzam Noor, setidaknya pada tingkat nasional dan regional. Karya-karya mereka dibaca, dikaji, dan dihargai dengan baik di lingkungan sastra dan akademi. Karya-karya Ahmad Tohari bahkan dianggap memberi sumbangan yang signifikan tentang dunia perdesaan di Jawa ketika bergulat menghadapi perubahan politik dan ekonomi. Namun sastra modern kita membutuhkan lebih banyak lagi sastrawan dari pesantren, dengan kualitas yang lebih baik lagi, dari tokoh-tokoh di atas. Dengan ketekunan dan kegigihan layaknya menghafal nadzaman, impian tersebut dapat lahir dari rahim kultural kita.
Namun bayi estetik jempolan itu tidak bisa lahir dengan sehat jika kita tidak tahu bagaimana mengandungnya, apa yang perlu kita konsumsi di saat mengandung, bagaimana melahirkannya dengan normal, mengasuhnya dengan baik hingga dapat tumbuh besar dengan visi dan jati dirinya yang kuat, visioner, menarik, dan menjadi teks yang selalu diacu terus menerus, lengkap dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dengan kata lain, sebuah karya sastra yang tidak berhenti sebagai produk industri penerbitan, namun mampu mengilhami temuan-temuan dalam bidang lain karena tawaran ide dan bentuk estetiknya yang segar dan penting untuk zamannya. Karya sastra yang tidak hanya menyuguhkan kecakapan teknik (stadium) namun mampu memancarkan aura (punctum) sehingga wilayah di luar sastra ikut tergoda untuk terlibat dalam arus wacana yang diusungnya. Karya sastra jenis ini tidak hanya membuka lapangan kerja karena mampu menghidupkan sektor industri cetak, namun juga menghidupkan dunia ilmiah yang mandeg. Kelahiran karya semacam ini, karena itu, sama halnya kelahiran sejarah, di mana arah sejarah memandang masa depan bergantung pada mata panah yang diluncurkan olehnya.
Dan kita pun merenung, betapa menyatakan cinta dengan mengirimkan bunga akan berbeda dengan menyatakan cinta dengan mengirimkan sebuah obor yang menyala atau sebait puisi klise yang selalu diharapkan oleh orang-orang yang kesepian. Itu artinya, gaya bahasa sebagai capaian dalam teknik berbahasa (bunga, api, puisi) dan ideologi sebagai capaian pemikiran dan pergulatan batin (cinta) mesti tampil secara tepat dan luwes agar dapat berdialog dengan konteks pembaca yang luas dan berbeda-beda. Adalah benar kata Ali Syariati, “Jika Alquran ditulis tidak dalam bentuk puisi, barangkali sudah tidak ada lagi yang membacanya.” Itu artinya, bobot sebuah pesan, makna, dan ideologi, sangat ditentukan oleh cara dan gaya penyampaiannya yang memiliki semangat poetic, dalam pengertian memiliki bentuk yang merujuk pada dirinya sendiri sehingga melaluinya realitas yang diolah dapat diangkat ke level yang transenden, melampaui relativitas realitas yang serba pragmatik, dan karena itu dapat menjadi teks yang dapat dikatakan “universal”. Para seniman besar mencapai posisi itu dengan berbagai cara, mulai dengan melakukan eksperimentasi ide yang dibentuk dengan melibatkan wawasan yang luas dan pergulatan batin dengan realitas yang kompleks, hingga eksperimentasi gaya bahasa dengan mengolah kembali tradisi sastra lama seperti dongeng. Kita pun dapat melakukannya dengan melihat kembali strategi penulisan yang unik seperti pada retorika dalam teks-teks astrologis semacam primbon dan kitab ramalan lainnya, atau leksikografis dengan menulis cerita dalam bentuk sebuah kamus jaman baheula, atau dengan menyusun struktur peristiwa seperti arsitektur sebuah gedung, disain sebuah pohon, pola-pola pada karang dan kulit binatang, atau susunan tulang binatang langka. Sedang isi yang disalurkan ke dalam gaya retoris itu bisa sejarah sosial pesantren, mulai mekanisme pewarisan pengetahuan di pesantren, tradisi penulisan dan pembacaan kitab, hubungan perdagangan antar daerah dan pulau, persoalan kekerabatan, mistisisme dan astronomi, hukum dan dongeng, yang dibaca secara kreatif dengan menggunakan temuan-temuan ilmiah kontemporer dalam berbagai bidang mulai fisika, biologi, botani, astronomi, yang didapatkan secara cuma-cuma di sekolah, hingga ke ilmu sosial humaniora semacam sejarah, filsafat, sosiologi, antropologi, psikologi, dan ilmu bahasa. Dengan begitu, lahirlah sebuah karya sastra yang tidak hanya menggambarkan realitas namun juga mempertanyakan dan menggugatnya, tidak hanya menjadi muara yang mempertemukan sungai ilmu-ilmu namun juga mempertanyakan ulang landasan pikirnya dan, semua itu disampaikan dalam sebuah kisah yang bentuknya menyerupai disain sebuah bunga atau pohon atau sungai yang dirancang oleh Tuhan ketika hendak menciptakan alam semesta yang penuh rahmat ini.
Dari semangat artistik yang bandel semacam itulah dapat lahir sebuah karya sastra yang memiliki kekuatan politik dalam percaturan gagasan, identitas, geografi, sejarah dan kekuasaan, sehingga mampu membentuk jati diri yang teguh dan visi yang jauh dan menggairahkan bagi para pembacanya. Dan itulah yang telah dilakukan penulis seperti Pramodya Ananta Toer, Naguib Mahfouz, Gabriel Garcia Marquez, Orhan Pamuk, Jorge Luis Borges, Tahar Ben Jelloun, Yasunari Kawabata, Pablo Neruda dan Chairil Anwar. Mereka menulis karyanya dengan menempatkan dirinya layaknya seorang kaisar memerintah sebuah negeri: ia mengatur para bawahannya dalam pemerintahan, memaksakan pada rakyatnya aturan dan hukuman, menanamkan pada mereka ideologi dan agar tidak gila juga memberi rakyatnya pekerjaan; singkatnya: ia mewujudkan gagasannya pada realitas bangsanya, dan menyusun gagasannya itu ke dalam bentuk negara ideal yang ada di kepalanya, dalam bentuk novel atau drama atau puisi, yang gemanya seakan mewakili irama misterius dari alam raya ini.
Maka untuk menjadi sastrawan besar tidak semudah menjadi seorang politisi, pejabat negara, profesional sebuah perusahaan, selebritis di industri media, atau meraih gelar profesor di sebuah universitas di Indonesia. Seseorang perlu memupuk semangatnya sejak remaja, mempelajari tradisi ilmiah dan literer dengan tekun, menggeluti persoalan aktual masyarakat dan bangsanya, hingga seiring dengan pertumbuhan usia, tumbuh pula wawasan, kecakapan teknik, dan kematangan literernya, dan pada saat sebuah ide telah matang setelah dikandung dalam permenungan, karya itu ditulis huruf demi huruf hingga menjadi sebuah buku. Dalam menjalani proses itu, seorang sastrawan mesti tahan menghadapi kesunyian, kemiskinan, dan pengasingan sosial, sebagai harga yang harus dibayar agar visinya dapat diterima oleh sejarah. Para santri yang terbiasa menghafal nadzaman, hidup sederhana dan kesunyian, mampu membayar harga itu; jika wawasannya terus berkembang, latihan terus diasah, dan tega mengkritik dirinya sendiri, melahirkan karya sastra besar akan terus terbuka peluangnya. Dan dengan karya itulah ia mampu mencipta sinstis estetik antara tradisi dan modernitasnya, menegaskan identitas bagi bangsanya, mendefinisikan teritorinya, sekali lagi: layaknya kaisar mengatur sebuah negeri...
 
VI
Namun, ketika sebuah karya sastra besar dilahirkan, ia selalu menimbulkan masalah: tepuk tangan penonton, rasa gembira yang memabukkan, pujian publik yang diulang-ulang seperti pita rekaman, popularitas yang membawa seorang sastrawan ke level pergaulan yang rumit di kalangan orang-orang penting, sehingga ia pun dipenjara oleh pergaulan dan kebanggannya itu, dan jauh dari realitas sosial dari masyarakat yang ia gambarkan dalam karya-karyanya. Tugas terakhir seorang sastrawan bukanlah ketika bab terakhir dari karyanya selesai ditulis, namun kecakapannya dalam menempatkan diri di tengah masyarakat, sama seperti seorang kiai yang mengunjungi kamar dan dapur para santri untuk memastikan mereka tetap belajar dan masih cukup beras dan sayuran, mengunjungi masyarakat yang sedang ditimpa persoalan, dan pada saat yang sama, di ruang pribadinya, ia menulis gagasan-gagasan untuk masyarakat zamannya dan zaman sesudahnya. Dengan cara itulah sastra tidak bersifat tekstual namun kontekstual, bukan hanya irama namun juga tindakan, bukan hanya gema melainkan juga gerakan sosial, yang menyulut sebuah pesan mulai ruang-ruang kecil hingga ruang-ruang yang lebih besar, dan membuat sebuah masyarakat atau bangsa menyala-nyala dan bangkit, dan getarannya dapat dirasakan hingga ke sudut terpencil di hati setiap insan, seperti irama nadzaman dan suluk setiap malam, ketika para leluhur menyusun sejarah mereka dan menjalaninya secara bermartabat dan bersahaja.
Jakarta, Senin 27 Desember 2010
Disampaikan dalam ceramah pada Liburan Sastra Pesantren se-Jawa di Pedesaan (LSdP) di Jogjakarta, Selasa, 28 Desember 2010.

Cita-citaku: Aku Ingin Menjadi Guru

Cita-citaku: Aku Ingin Menjadi Guru

Namaku adalah Siti Qitijah. Aku tinggal di Desa Wonotirto Kec. Wonotirto Kab. Blitar. Desaku adalah desa yang indah dan permai. Di sana-sini terhampar sawah yang luas. Dan pada saat padi menguning, sawah-sawah itu terlihat sangat indah sekali. Seperti hamparan emas berkilauan.
Aku tingal dalam keluarga yang sederhana. Ayahku bernama Nyoto. Sedangkan ibuku bernama Kamsih. Pekerjaan orang tuaku adalah tani. Sejak kecil aku sudah ditinggal oleh kedua kakek-nenek dari pihak ayahku. Kakek dari pihak buku juga sudah meinggal. Kini yang masih terisisa adalah nenek dari phak ibuku.
Aku mempunyai kakak, namun aku tidak mempunyai adik. Alhamdulilla, kakak-kakakku di rumah juga penghafal Al Qur’an. Mereka belajar di Pesantren Sunan Pandanaran atau Ngunut Tulungagung.Ada juga yang belajar di Singosari.
Hanya saja aku mempunya adik seupupu bernama Ahmad Saiful Bahri. Ia kini kelas 1 Sekolah Dasar ( SD ).
Pertama kali aku masuk SMP Nabawi Maftahu Ulum aku sangat malu-malu. Karena sebelumnya aku belum pernah datang ke Pesantren ini. Tapi aku juga sangat bersyukur karena dalam satu hari aku mendapatkan temanyang cukup banyak dan dalam satu hari aku suda banyak mengenal kakak-kakak kelasku.
Kakak kelas yang pertama ku kenal yaitu Mbak Eka. Pertama-tama aku juga malu dengan Mbak Eka. Api lama kelamaan menjadi biasa dengan Mbak Eka. Dan lama-lama aku mejadi dekat dengan kakak kelasku itu.
Hari pertama aku masuk sekolah, hatiku deg-degan banget. Tapi ternyata guru-guru SMP Nabawi Maftahul Uluum orangnya baik-baik. Aku jadi ngak deg-degan lagi. Begitulah pertama kali aku masuk SMP Nabawi Mafahul Uluum.
Aku ingin menjadi guru. Karena guru bisa membantu anak-anak yang tidak mampu untuk bersekolah. Aku ingin mejadi guru agama dan aku juga ingin hafal Al Qur’an sampai 30 Juz seperti kakak-kakak kelasku di sini. Semoga Allah SWT mengabulkan cita-citaku…Amin..amin..amin Yaa Robbal Alamien….

Kisah Cinta SANTRI SALAFI

aisa
Itulah sms terakhir yang ku kirimkan kepadanya. Kulihat jam telah menunjukan jarumnya keangka 12 malam. Masih ada beberapa jam untuk istirahat, sebelum melaksanakan shalat isya dan tahajud bersama bang husein. Esok hari, tubuhku harus dalam keadaan bugar dan stamina yang prima. Haul dan maulidnya habaib pasti akan sangat berkesan, dan aku tidak mau melewatkannya. Akupun memejamkan mata seraya berdo’a agar aku terhindar dari tipudaya iblis dan pengikutnya.



Tiga tahun telah berlalu, semenjak aku menginjakkan kaki di penjara suci ini. Hawa yang dulunya kurasa sejuk kini menjadi musim panas khatulistiwa. Sangat beda dengan negeriku dulu. Kultur dan budaya yang sangat berbeda, Strata social semakin jelas terasa. manusia-manusia yang beraneka rupa telah menjelma menjadi kehidupan baruku di negeri kecil yang dipimpin oleh seorang kiai. Tak apalah bagiku, Allah telah memberikan kelebihan khusus agar aku bisa beradaptasi dengan cepat dimanapun kakiku melangkah.
Tidak seperti biasa, pagi itu aku begitu bingung dan bimbang. sudah satu bulan Nidya, santriwati satu-satunya yang pernah aku kenal, tak lagi menghiasi handphoneku dengan kata-kata indahnya. Aku bingung, apakah dia telah mengetahui isi hatiku yang semakin hari semakin sulit untuk tidak mengingat namanya, Sehingga ia menjauh dan tak pernah lagi mau bersua. Seingatku aku tidak pernah berbuat kesalahan kepadanya. Aku benar-benar gelisah, karena dia yang telah megisi hatiku dengan sesuatu yang tak pernah ada sebelumnya. Hampir tidak mungkin santri lugu sepertiku jatuh cinta. Tapi apakah ini cinta? Fikiran dan logika terbaikku tak mampu menjawabnya.
‘ Dread…dread…dread ’
Sebuah pesan masuk ke nomor hpku.
“ Putra, entar kalo ente jadi, ana tunggu di pemandian, kita berangkat setelah manghrib, oke!”
Subhanallah, sejak kapan aku mudah melupakan janji. Aku bergegas menyiapkan satu steal baju koko dan sarung untuk bekal. Sebab nanti malam aku akan berangkat ke Banyuwangi untuk menghadiri haul almarhum habib Rohman di ponpes tarimulghanna cabang Hadramaut, yang sekarang di asuh oleh Habib Shaleh. Habib shaleh adalah Santrinya Habib umar, pengasuh ponpes hadramaut, sebuah kota dinegeri yaman yang telah melahirkan ribuan ulama kaliber internasional.
Setelah maghrib aku menepati janjiku. Aku berjalan menuju pemandian Pelita. Semakin dekat aku dengan pemandian itu, semakin kacaulah hatiku, keringat dingin membasahi tubuhku. Disanalah rumah seorang muslimah yang namanya telah menyatu dengan aliran darahku.
Aku memanggilnya Nidya, padahal santri lain jarang yang memanggilnya demikian. Dengan alasan takut cangkolan mereka memanggilnya Neng. Ah, ada-ada aja santri itu, semoga ia tidak sombong dan bangga dengan nama kebesarannya. Alhamdulillah aku tidak melihatnya ketika itu, aku terus berjalan kearah pemandian yang berada tepat di depan rumahnya.
“ Assalamu’alaikum… bang husennya ada ? ” Tanyaku pada salah seorang santri di pemandian itu.
“ Wa’alaikum salam… ada!, tuh sedang shalat ” jawabnya sambil menunjuk kearah barat.
“ Ooo iya, terima kasih ! ”.
Aku menunggu bang husein hingga selesai shalat sambil bercengkrama dengan teman-temanku yang telah lebih dahulu menyelesaikan munajatnya. Ada 7 santri yang kebetulan menghabiskan waktu maghrib di pemandian itu.
“ Putra! Apa sekarang kita berangkat? ” Tanya bang husein setelah merampungkan kewajibannya.
“ kalau bisa sekarang, kenapa tidak. kan semakin cepat semakin baik ”.
“ iya dah, ana siap-siap dulu ya ”
“ ana tunggu di mushala aja ya bang !”
Di mushala itu hatiku tak pernah bisa tenang, seakan-akan ia yang kurindu mengawasi semua gerak-gerikku. Aku mengambil al-quran dan membacanya agar waktuku tidak terbuang dengan sia-sia. Lagi-lagi aku merasa ia melihat dan mendengar apa yang ku baca. Hilang sudah keikhlasanku membaca kalam suci tuhan, berganti dengan riya yang tiba-tiba muncul dari dalam dada. Ya rabb ampunkanlah segala dosa-dosaku, aku tak mampu mengendalikan hati dan fikiranku yang telah terbelenggu, karena dia.
“ Ayo put, kita berangkat ! ”, teguran bang husen membuatku tersadar.
“ Udah siap bang?”
“ Ya udahlah, wong Cuma semalam. Ngapain bawa baju banyak-banyak.”
Kamipun bergegas keluar dari mushala diringi dengan do’a menuju ke halte bus. Tak berapa lama bus jurusan Surabaya-Banyuwangi pun tiba. Dengan segera kami menghentikan dan menaiki bis AKAS yang kelihatan tua itu.
Mungkin karena keletihan dan suasana bis yang gelap tanpa penerangan, kamipun tertidur dengan pulas. Kebiasaan santri yang sulit di hilangkan. Tidur dimana saja dan kapan saja.
“ Put, put, bangun! Kita udah sampai nih ” suara bang husein membangunkanku.
“ Sampe dimana bang ? ”
“ Ketapang ”
“ Kita harus naik taxi lagi jurusan Perliman untuk sampai ke pondok itu ”
Dengan Langkah berat akupun mengikuti langkahnya. Melihat ada angkot yang menawarkan diri, bang husein pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Agar tidak larut malam katanya!. Belum sampai satu kilometer perjalanan, angkot itupun berhenti di pinggir jalan. Tepat di depan warung nasi. Yaa mungkin aja sopirnya lagi laper batinku bergumam, berusaha husnuzzan untuk menghilangkan rasa kekecewaan.
Aku berusaha menghilangkan kekesalan dengan memainkan HP. Siapa tahu ada pesan masuk. Tapi lagi-lagi aku kecewa. SMS yang ku kirim kemarin belum juga di balasnya. Aku berusaha berbaik sangka. Tapi tetap saja aku gelisah, bingung, sedih, rindu, dan berbagai perasaan lainnya berbaur menjadi satu. Di luar sana udara malam kota Banyuwangi semakin jelas tercitra. Kelembabannya menambah benjolan-benjolan kecil di mukaku. Aku masih mesih mencoba menghubungi Nidya setelah lebih dari sebulan telponku tidak pernah ia angkat.
Tepat pukul 21.00 setelah sela 30 menit angkot melaju. Kamipun tiba di ponpes tarimul ghanna. Tenda-tenda telah terpasang dengan megah. Tanda bahwa esok pagi akan diselenggarakan acara akbar. “assalamu’laikum” sapa bang husein kepada sekolompok orang yang asyik menikmati kehangatan kopi malamnya.
“ Wa’alaikum salam, ini husein ya? ”
“ Iya ”
“ subhanallah, kaifa haaluk ya akh [1]? ”
“ Alhamdulillah, ana bi khair [2]”
“ Lama kita nggak jumpa, dan ternyata kehendak Allah menentukan perjumpaan kita disini” kata ilham terharu, teman bang husein tiga tahun yang lalu, yang kini telah berkelurga dengan gadis kota kediri.
“ Yaa begitulah kuasa Allah, ham ! Oia, ngomong-ngomong ente masih sering ikut pengajiannya habaib?
“ Sering sih, ana emang deket dengan para habaib, jadi ana selalu mengikuti acaranya. Baik di kediri, malang, bangil, dan kota-kota lainnya. Kan yang namanya ngaji nggak cuma di pondok. Ayo husein masuk dan istirahatlah dulu ”
“ Iya, syukran [3]! Ana memang agak sedikit letih setelah tiga jam lebih naik kendaraan ”
Bang huseinpun masuk kesebuah ruangan yang telah di sediakan panitia untuk para tamu-tamu yang menginap. Sementara aku tetap membisu, tak mampu megucapkan sepatah katapun.
“ Ayo put, kita rebahan dulu, entar kita shalat isya berjama’ah ples shalat tahajud ”. Akupun menuruti perkataan bang husein.
* * *
Malam ini mataku tak bisa terpejam, bulan dan bintang-bintang semakin menambah gemerlap sinarnya. Menerangi panitia haul dan maulid yang sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Gema yang dipantulkan binatang-binatang malam, semakin membuat romantis suasana malam pesantren ahlilbait.
Aku mengambil HP yang sedari tadi mengurung diri di balik tas. aku yakin dia belum tidur. Karena dulu ia pernah berkata bahwa ia belajar mulai dari isya sampai jam 02.00 malam. Meskipun rasa itu semakin tak terkendali, aku berusaha untuk menstabilkan emosi, karena bagaimapun obat sang pecinta tiada lain kecuali bertemu dengan dambaan hatinya.
Aku mengirimkan sms untuknya,
Askum… Nidya lg ngpain?, udh tidur? Ana punya cerita bagus nih, mu denger g’k?
Aku lega ketika layar hpku memuncuklkan tulisan ‘sms delivered’. Sambil membaca buku karangan Syekh Taba’tabai aku mengharap ia akan membalasnya. Dugaanku benar, 30 menit kemudian Hpku begetar.
Wa’laikum slm… Sry telat blz, tadi Nidya lgi ada d OFFICE, ada acara ROAD COUNTRY. Crta apaan? Jd pnsrn nih, mw dong!
Aku bersyukur ia membalasnya setelah hampir sebulan tidak ada kabar berita.
Tp sblumx aq mnt ma’f bgt, mungkin crta ni g’k pantes aq ceritain ma Nidya.but, crt ni emg hrs aq crtkn
Kini, aku tidak lagi menunggu balasannya, sebab bisa jadi esok pagi ia baru membalasnya. Aku kembali menulis,
Kmrn, ana pernah mencintai NIdya, ana yakin Nidya juga pasti mengetahuinya. Klimaksya adalah beberpa minggu yang lalu hingga sekarang ini… ana g’k bisa Menghafal alqur’an dengan benar, belajar ng’k konsentrasi, dst. Dan sekarang ana ada di BWI untuk menenangkan dan mendekatkan diri. Beberapa hri yang lalu ana juga pernah menceritakan hal ini kepada kepada shabat karib ana. Dan iapun berusaha memberikan solusi menurut pengalamnnya. Tp ana hanya berkata, mungkin kita berbeda.
“messege delivered”. Ana masih terus menulis, melanjutkan cerita yang sempat tertunda karena keterbatasan ruang untuk menulis sms. technologi sms hanya memungkinkan mengirim max 450 karakter.
Hingga akhirnya ana menyerahkan semuanya kepada Allah dan menyimpulkan bahwa ini bukanlah cinta, sebab bagaimana mungkin ana mencintai manusia sementara ana masih belum bisa mencintai ALLAH?. Sampe-sampe Hati ana suuzzon, riya, takabur, dls disebabkan perasaan ini. Nidya, ana udah 3 tahun lebih mondok di sini, tapi ana g’k pernah bertemu dengan sang pendiri meskipun di dalam mimpi. Seakan semua ibadah yang ana lakukan hampa dan tak bermakna. maksud ana menceritakan hal ikhwal ini, agar hati ana bisa terjaga dan kembali kembali konsentrasi dalam study dan ibadah serta menjalani hari-hari selanjutnya dengan lebih baik. Itupun jika Nidya mau mema’afkan kesalahan yang telah ana sebutkan tadi
Belum sempat sms tersebut terkirim, tanpa terduga ia membalas sms yang telah kukirimkan sebelumnya
trs… kenapa putra g’k ngmong langsung ma Nidya?, mngkn kt bisa menmukan solusiy. Putra udah Aq anggap sahabat, sama halnya dengan Reza… jd apapn yang terjadi sama sahabatku aku harus tau, y seenggaknya…” aku bingung, sedih, bahagia, dan juga sedikit kecewa membaca smsnya.
Dari kata-katanya aku bisa menduga bahwa hatiku dengan hatinya tidaklah sama. Jika hatiku cenderung kepadanya, bisa jadi ia malah sebaliknya. Hal itulah yang sangat aku takutkan, aku takut ia menjauh dariku. Aku sadar, beberapa bulan terakhir, dalam seminggu aku pasti menghubunginya atau minimal mengirimkan sms.
Pernah aku menelpon ia hampir tiga(3) jam lamanya. Mulai dari pukul 23.00 sampai pukul 02.30, begitu asyiknya percakapan itu hingga aku lupa segalanya. Aku juga ngak tau bicara apa saja pada malam itu. tapi hal itu memang fitrahnya sang pecinta, ia akan bahagia jika mendengar suara kekasihnya. Dan ia akan merasa kehilangan jika tak pernah bersua dengannya.
Aku telah berkali-kali meminta ma’af kepadanya setelah aku sadar bahwa perilaku demikian tidaklah mulia. Tapi ia malah berkata “aku g’k senang jika putra ngomong kayak gitu, apa yang selama ini aku lakukan semata-mata karna kita adalah teman”. Pada malam ini aku benar-benar merasa bersalah. Aku adalah makhluk paling egois. aku tidak menghiraukan perasaannya, kesibukannya, dan semua tentangnya. Yang aku fikirkan adalah bagaimana aku bisa berkomonikasi dengannya. Oh tuhan… maafkanlah hambamu yang penuh kekhilafan ini, aku tidak tahu kepada siapa harus mengeluh dan mengadu jika tidak kepadamu.
Aku tidak menghiraukan sms Nidya. Aku langsung mengirimkan sms yang telah aku tulis sebelumnya. “Messege sent”. Agak lama aku menunggu, andai saja tidak ada buku yang bisa aku baca, bisa-bisa aku tertidur pada sa’at itu juga. akhirnya sebuah pesan singkat menggetarkan HPku,
aq ma’afin kok put… tapi ijinkan aku mnta ma’af sama putra, krn mungkin sikpku yang terlalu over dalam berteman hingga bikin putra jadi begini.. ma’afin aku..
Semakin sedih hatiku membaca balasan smsnyya. Aku sangat-sangat tak bisa mendengarkan ia meminta ma’af kepadaku. Seharusnya akulah yang meminta ma’af 1000X kepadanya, sebab aku merasa bahwa aku adalah makhluk yang paling berdosa, kehidupanku penuh dengan maksiat, aku selalu menykiti hati teman-temanku. Tak pantas gadis suci sepertinya memohon ma’af dariku. Apa salah dia kepadaku??? Aku berusaha memendam kesedihan dan berusaha sebijak mungkin membalas smsnya.
G’k over kok Nid… biasa aja. Mungkin Krn ana ngak terbiasa bergaul dengan teman-teman cwek jadinya yang kayak gini.. tp jujur! Ada dua muslimat yang ketika melihatnya bisa mengigatkan semua kesalahan ana, dan salah satunya adalah Nidya
Messege delivered.
Setelah semua prahara yang terjadi didalam hatiku, aku ceritakan kepadan Nidya, aku merasa sangat lega, aku bangga karena tidak termasuk orang-orang pengecut, yang tidak berani mengungkapkan perasaannya kepada orang yang ia cintai. aku juga bersyukur Karena tidak seperti mereka yang sedih ketika cintanya bertepuk sebelah tangan dan bahagia ketika cintanya di terima.
The story is ended, and NOW I wanna beganing the New story..!, ms. Nidya don’t ever say my story to other man or women whoever… PleasE,,,, Okay!
Messege sent.
Malam telah menjadi saksi atas kejujuran hambanya, ia telah melepaskan jaring-jaring cinta semu. Ia sadar, tak perlu baginya untuk mencari dan mendapatkan dambaan hatinya. Sebab tiada daya bagi seorang hamba untuk menentukan nasibnya.
Tugasnya hanyalah berusaha, hanya itu!. Dunia hanyalah permainan. dan aku akan bermain di dunia ini sebagaiman bermainnya imam-imam terdahulu, kekasih allah, orang-orang yang memegah teguh ajaran agamanya dan mereka yang selalu berusaha menjaga kesucian jiwa raga.
THE END